Budaya mencontek dan korupsi

Image
Cheating (image: wikimedia commons)

Entah sudah berapa kali saya mendengar pembelaan yang dilontarkan mahasiswa atas tindakan curang yang mereka lakukan dalam kegiatan akademik, mencontek dan memberi contekan. Mereka beralasan ini (mencontek) dilakukan agar memperoleh nilai yang baik dan tidak mengecewakan pihak yang telah membiayai kuliah mereka. Ada pula yang beralasan ini dilakuakan sebagai bentuk solidaritas atau rasa kasihan mereka terhadap rekan mereka.

Bagi saya, ini sama seperti mengatakan bahwa korupsi atau mencuri untuk memberi makan keluarga atau menyejahterakan keluarga, rekan atau teman dekat adalah sesuatu yang baik dan sah-sah saja untuk dilakukan. Ternyata logical fallacy seperti ini sudah dipupuk sejak di bangku sekolah dan membudaya bahkan terbantu untuk berkembang dan bertahan dengan bantuan pendidik itu sendiri, dengan melakukan pembiaran contohnya. Dengan budaya mencontek yang telah dipupuk sejak dini ini tidak heran korupsi begitu membudaya di sini. Menjadi sesuatu yang dianggap bukan sebagai sesuatu yang salah atau dosa (bagi yang beragama). Tak lagi bisa membedakan yang yang benar dan salah, yang hak dan yang batil. Karena telah menjadi normal.

#pikiran yang tiba-tiba terlintas tanpa sebab dan menulis di twitter tidak mencukupi

#kalau malam pikiran saya memang suka aneh-aneh -_-

Probolinggo, 27 Februari 2014

Metode ilmiah; antara kemajuan Eropa dan budaya Islam

Jika menilik kemajuan Eropa dalam bidang keilmuan dan teknologi di dunia moderen, hal ini tidak lepas dari munculnya metode-metode ilmiah keilmuan dan inspirasi-inspirasi filsafat alam yang didapat dari alam pikiran budaya Yunani pada masa ‘pencerahan’ atau renaissance. Selama ini, jamak pendapat bahwa ilmuwan Eropa memperoleh dasar dari metode ilmiah dari filsuf-filsuf Yunani. Roger Bacon yang disebut-sebut sebagai advokat bagi metode ilmiah moderen di Eropa dikatakan terinspirasi oleh Aristoteles dan Plato. Akan tetapi patut diketahui bahwa sifat dan semangat dari folosofi alam Yunani adalah bersifat spekulatif, lebih mengutamakan teori dan tidak mengindahkan kenyataan atau pengalaman konkret. Ilmu pengetahuan moderen amat mengedepankan aspek pengamatan langung dan bukan sekedar teori belaka yang bersifat spekulatif. Hal ini terutama terlihat dalam ilmu-ilmu alam fisik seperti fisika, dimana suatu teori harus mendapatkan konfirmasi melalui eksperimen untuk membuktikan kebenarannya. Kebudayaan Yunani tidak mengenal penyelidikan dan pengumpulan secara sabar terhadap pengetahuan, serta metode-metode keilmuan yang begitu cermat, dan observasi serta penyelidikan eksperimantal yang rinci dan panjang. Roger Bacon sendiri sebenarnya mempelajari metode ilmiah dari Universitas Islam Spanyol. Karyanya Opus Majus yang berisi penjelasan ilmiah tentang matematika, optik, kimia, dan mekanika sebenarnya berisi metode-metode yang berasal dari ilmuwan-ilmuwan muslim seperti Al-Kindi dan Ibn Al-Haytham. Antropolog Robert Briffault dalam bukunya’The Making of Humanity’ menuliskan;

Baik Roger Bacon maupun kawan sejawatnya yang kemudian, tidak berhak disebut sebagai orang yang telah memperkenalkan metode eksperimen. Roger Bacon tak lebih hanya salah seorang utusan saja dari ilmu pengetahuan dan metode Islam kepada dunia Kristen di Eropa, dan dia pun tak kenal letih mengumumkan, bahwa pengetahuan bahasa dan ilmu pengetahuan Arab bagi mereka yang sezaman adalah satu-satunya jalan ke arah pengetahuan yang sebenarnya. Perdebatan-perdebatan seperti misalnya tentang siapa pencipta pertama metode eksperimen ialah sebagian dari penafsiran yang besar sekali tentang asal-usul peradaban Eropa. Metode eksperimen Islam itu pada masa Bacon secara luas dan bersungguh-sungguh disebarkan ke seluruh Eropa. (hal. 202) Continue reading “Metode ilmiah; antara kemajuan Eropa dan budaya Islam”